Pengakuan Iman Rasul
(Versi Protestan)
Aku percaya kepada Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
Khalik langit dan bumi.
Dan kepada Yesus Kristus,
Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita
Yang dikandung dari Roh Kudus,
lahir dari anak dara Maria
Yang menderita sengsara
di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, mati dan dikuburkan,
turun ke dalam kerajaan maut
Pada hari yang ketiga bangkit pula
dari antara orang mati
Naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa,
Dan dari sana Ia akan datang
untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati
Aku percaya kepada Roh Kudus,
Gereja yang kudus dan am,
persekutuan orang kudus
pengampunan dosa
kebangkitan tubuh
dan hidup yang kekal.
Amin
Pages
Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts
September 04, 2010
August 12, 2010
Bapa Kami (Our Father)
Labels:
Agama
May 27, 2010
Marah Kepada Tuhan?
Banyak lagu rohani yang liriknya berbicara tentang kebaikan Tuhan. Memuja Tuhan karena Dia baik; bahkan amat baik. Tentu itu benar. Namun, kita masih boleh bertanya tentang pernyataan bahwa Tuhan itu baik. Baik kepada siapa? Tuhan itu dipuji sebagai Allah yang baik, tetapi baik kepada siapa? Kebanyakan jawabannya adalah: kepada saya. Lantas, bagaimana jika Tuhan baik kepada orang lain? Bahkan, baik kepada orang yang menurut kita tak pantas menerima kebaikan Tuhan?
Kisah Yunus menjawabnya, melalui sikap sang nabi itu sendiri. Yunus marah—marah kepada Tuhan. Yunus tidak dapat menerima bahwa Tuhan baik kepada Niniwe; kota jahat yang bertobat itu. Malapetaka urung dijatuhkan. Yunus sungguh kesal, marah, dan protes keras sampai minta mati (ayat 3,8,9). Namun, Tuhan sabar mengajar Yunus. Pelan-pelan ia menyadarkan nabi itu. Kisah Yunus mengajar kita tentang kebaikan Tuhan dalam cakrawala yang lebih lebar. Kebaikan Tuhan tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk Anda, untuk dia, untuk mereka. Tuhan itu baik bagi semua orang.
Ingat cerita anak sulung yang marah ketika adiknya si bungsu pulang disambut bapanya dengan kebaikan (Lukas 15:28)? Itulah gambaran sikap kebanyakan orang, termasuk orang kristiani. Yakni, kerap merasa dirinya saja yang layak menerima kebaikan Tuhan. Dan “membuat daftar” tentang orang-orang yang tak pantas menerima kebaikan Tuhan. Akibatnya, jika sesama diberkati atau menerima kebaikan di hidupnya, ia gelisah dan marah. Belajarlah melihat kebaikan Tuhan kepada orang lain juga, sebab Dia baik kepada semua orang.
Sumber:[Pipi Agus Dhali]--[www.renunganharian.net].
Kisah Yunus menjawabnya, melalui sikap sang nabi itu sendiri. Yunus marah—marah kepada Tuhan. Yunus tidak dapat menerima bahwa Tuhan baik kepada Niniwe; kota jahat yang bertobat itu. Malapetaka urung dijatuhkan. Yunus sungguh kesal, marah, dan protes keras sampai minta mati (ayat 3,8,9). Namun, Tuhan sabar mengajar Yunus. Pelan-pelan ia menyadarkan nabi itu. Kisah Yunus mengajar kita tentang kebaikan Tuhan dalam cakrawala yang lebih lebar. Kebaikan Tuhan tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk Anda, untuk dia, untuk mereka. Tuhan itu baik bagi semua orang.
Ingat cerita anak sulung yang marah ketika adiknya si bungsu pulang disambut bapanya dengan kebaikan (Lukas 15:28)? Itulah gambaran sikap kebanyakan orang, termasuk orang kristiani. Yakni, kerap merasa dirinya saja yang layak menerima kebaikan Tuhan. Dan “membuat daftar” tentang orang-orang yang tak pantas menerima kebaikan Tuhan. Akibatnya, jika sesama diberkati atau menerima kebaikan di hidupnya, ia gelisah dan marah. Belajarlah melihat kebaikan Tuhan kepada orang lain juga, sebab Dia baik kepada semua orang.
Sumber:[Pipi Agus Dhali]--[www.renunganharian.net].
Labels:
Agama
May 22, 2010
Cinta Terbatas
Di Inggris, para istri atau pacar pemain sepakbola biasa disebut WAGs (wife and girlfriends). Kehidupan WAGs layaknya selebriti; pesta-pesta besar pada malam hari, dan belanja di toko-toko papan atas pada siang harinya. Tidak heran kalau bagi sebagian wanita, menjadi anggota WAGs adalah sebuah kebanggaan dan impian. Namun, di balik kemewahan itu sebetulnya tersimpan rasa was-was yang teramat besar terkait tindak-tanduk sang kekasih.
“Anda harus melakukan segalanya untuk tetap tampil cantik dan prima, termasuk operasi plastik, agar kekasih atau suami Anda tidak melirik wanita lain. Karena di luar rumah, mereka akan selalu menghadapi rayuan dan godaan. Jika sang kekasih kembali ke rumah dan tidak menemukan kami dalam kondisi sempurna, maka suatu hari nanti ia tidak akan kembali,” demikian pengakuan salah seorang anggota WAGs.
Begitulah kalau cinta hanya sebatas kulit, semata-mata karena hal-hal lahiriah; sangat melelahkan dan melemahkan—karena orang kemudian akan terus dituntut untuk hidup dalam “topengnya”. Juga sangat rapuh, sebab betapa pun yang namanya “kulit” cepat atau lambat akan ditelan waktu. Tidak abadi.
Benar, bukan berarti penampilan fisik sama sekali tidak penting. Tetap penting. Hanya, jangan jadikan itu sebagai satu-satunya alasan membangun cinta. Seperti kata pepatah, “Jangan mencintai seseorang karena ia istimewa, tetapi buatlah ia istimewa karena kamu mencintainya.” Hal itulah yang ditampakkan oleh pasangan kekasih dalam bacaan Alkitab hari ini. Mereka saling berbagi tempat istimewa di hati masing-masing. Sungguh sebuah cinta nan elok.
Sumber: [Ayub Yahya]--[www.renunganharian.net]
Jadi, untuk saudara-saudari yang tercinta di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dalam berteman apalagi mencari pasangan hidup, janganlah melihat seseorang hanya dari harta dan penampilan saja, karena semua itu hanya akan menimbulkan kecemasan.
“Anda harus melakukan segalanya untuk tetap tampil cantik dan prima, termasuk operasi plastik, agar kekasih atau suami Anda tidak melirik wanita lain. Karena di luar rumah, mereka akan selalu menghadapi rayuan dan godaan. Jika sang kekasih kembali ke rumah dan tidak menemukan kami dalam kondisi sempurna, maka suatu hari nanti ia tidak akan kembali,” demikian pengakuan salah seorang anggota WAGs.
Begitulah kalau cinta hanya sebatas kulit, semata-mata karena hal-hal lahiriah; sangat melelahkan dan melemahkan—karena orang kemudian akan terus dituntut untuk hidup dalam “topengnya”. Juga sangat rapuh, sebab betapa pun yang namanya “kulit” cepat atau lambat akan ditelan waktu. Tidak abadi.
Benar, bukan berarti penampilan fisik sama sekali tidak penting. Tetap penting. Hanya, jangan jadikan itu sebagai satu-satunya alasan membangun cinta. Seperti kata pepatah, “Jangan mencintai seseorang karena ia istimewa, tetapi buatlah ia istimewa karena kamu mencintainya.” Hal itulah yang ditampakkan oleh pasangan kekasih dalam bacaan Alkitab hari ini. Mereka saling berbagi tempat istimewa di hati masing-masing. Sungguh sebuah cinta nan elok.
Sumber: [Ayub Yahya]--[www.renunganharian.net]
Jadi, untuk saudara-saudari yang tercinta di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dalam berteman apalagi mencari pasangan hidup, janganlah melihat seseorang hanya dari harta dan penampilan saja, karena semua itu hanya akan menimbulkan kecemasan.
Labels:
Agama,
Pengembangan Diri
Subscribe to:
Posts (Atom)